Skip to main content

Menjadi Al Quran Berjalan

    
    Seluruh umat Islam sepakat, bahwa Al quran merupakan panduan utama untuk mereka meraih kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Namun tentunya hal itu tidak hanya menjadi ucapan belaka, butuh adanya realisasi nyata.  Maka kewajiban utama adalah menjadikan Al quran jalan hidup dan berjalan dengannya dalam segala aspek kehidupan.

Ummul mu'minin Aisyah ra. pernah ditanya tentang bagaimana Akhlaq Rasulullah, beliau berkata :

 ' كان خلقه القرآن '
"Akhlaq Rasulullah adalah Al Quran"

    Jawaban yang singkat ini menyampaikan pada kita bahwasannya Rasulullah telah sampai pada tingkatan dimana segala bentuk gerak-gerik dalam kehidupan beliau senantiasa mencerminkan apa yang ada dalam Al Qur'an. Oleh karenyanya seringkali pula para sahabat menyebut beliau ibarat Al Quran yang berjalan. Tentunya hal ini tidak mengherankan karena beliaulah sang pembawa dan pengemban risalah. Namun pasti akan menjadi luar biasa bila seorang manusia biasa mampu meniru seperti halnya Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam.

    Para sahabat yang menyadari sepenuhnya hal tersebut menjadi generasi pertama yang berlomba-lomba  menjadi seperti Rasulullah SAW.  dengan  menjadikan diri mereka masing-masing bagaikan Al Quran yang berjalan dimuka bumi. Maka tidak heran ketika para sahabat mulai bertebaran dimuka bumi untuk berdakwah, manusia mulai berbondong-bondong masuk kedalam agama Islam di seluruh jazirah Arab, dan seperti inilah  hendaknya yang harus dilakukan oleh setiap generasi umat ini.

    Menjadi Al Quran berjalan berarti usaha merubah segala bentuk perbuatan kita sesuai ajaran dan tuntutan dari Al Quran. Bila hendak berbicara misalnya, maka yang tercermin dari lisan kita haruslah firman Allah :

(يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا)
"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar." [Surat Al-Ahzab 70]

Begitu pula ketika berjalan, maka yang tegambar dari setiap langkah kita adalah kalam Allah :

(وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا)
"Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan."[Surat Al-Furqan 63]

Dan juga, ketika kita hendak menyeru manusia kepada kebenaran maka yang tercermin adalah firman Allah :

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ 
"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk."[Surat An-Nahl 125]

    Begitu seterusnya, dalam segala aspek kehidupan kita yang tercermin adalah Al Quran, begitu juga dalam memimpin bangsa, berkeluarga, berteman, berbakti kepada orang tua, bahkan yang tidak kalah penting juga adalah dalam hal memilih pemimpin. Maka sekarang yang menjadi PR besar kita ialah untuk selalu mempelajari Al Quran, memahami makna-makna di dalamnya, hingga kita tahu arahan dan koridor  yang telah di tetapakan oleh Allah Subhanahu wata'ala dalam Al Quran untuk kita, guna meraih kebahagian di dunia dan di akhirat. Allahummarhamna bil quran.

Comments

Popular posts from this blog

Apa Arti 'Tsabat' ?

Tsabat (الثبات) berasal dari kata 'ثبت' yang berarti tetap, mantap dan stabil. Tsabat terhadap pendapat (الثبات على الرأي) berarti konsisten dalam pendirian. Sedang Tsabatnya pemahaman (ثبات المفاهيم) artinya pemahaman yang mantap lagi kokoh.    Allah swt banyak menyebutkan kata tsabat dalam Al Quran,  diantaranya Allah berfirman : (يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ) "Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat". [Surat Ibrahim 27] (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ) "Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu." [Surat Muhammad 7]   Maka hakikatnya Tsabat merupakan nikmat yang diberikan oleh Allah swt, bagi mereka yang mau mengusahakannya. Oleh karenanya Rasulullah saw ...

Fitnah Akhir Zaman (3 Habis)

        Menjadi salahsatu bentuk fitnah  yang nyata diakhir zaman adalah meratanya perilaku kemungkaran yang diperbuat manusia, yang disebabkan karena telah ditinggalkannya Amar ma'ruf nahi mungkar oleh  orang-orang sholeh. Yang kemudian akan mendatangkan murka dan  adzab Allah yang pedih yang akan menimpa semuanya.       Diriwayatkan Dari Zainab bintu Jahsyin, bahwa Nabi SAW bangun dari tidurnya dengan muka yang memerah seraya berkata: “La ilaha illallah, celakalah orang-orang Arab, karena keburukan yang telah dekat. Telah terbuka pada hari ini dari dinding Ya`juj dan Ma`juj seperti ini.” –dan Sufyan (seorang perawi) melingkarkan tangannya dalam bentuk angka sepuluh– Kemudian saya (Zainab) berkata: “Ya Rasulullah, apakah kita akan binasa meskipun bersama kita ada orang-orang shalih? Beliau menjawab: “Ya, ketika al-khabats (keburukan) semakin banyak jumlahnya.”      Sebagaimana Allah SWT...

Fitnah Akhir Zaman ( Bagian 1 )

       Dalam sebuat hadits shohih yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari, bab: Mawâqit Ash-Shalah, hadits no. 525 [Fath Al-Bâri (2/11)] dan Imam Muslim: Bab Al-Fitan wa Al-Malâhim, hadits no. 144 dan Muslim, diceritaka bahwa suatu ketika  Amiirul Mukminin Umar bin Al khothob ra. duduk-duduk bersama para sahabat  dizamannya, yang disitu ada juga sahabat Hudzaifah bin Al Yaman ra.     Umar bertanya kepada para Sahabat " Adakah diantara kalian yang mengetahui sebuah hadits dari Rasulullah tentang Fitnah Akhir zaman ?". Sebagian sahabat menjawab "Benar kami mengetahuinya wahai Amiirul mukminin". Umar kemudian berkata " Apakah yang kalian maksud fitnah yang menimpa seorang laki-laki terkait keluarga, harta, anak, atau tetangganya yang dapat dilebur dengan shalat, puasa, sedekah, dan melakukan amar makruf dan nahi munkar ?" Sahabat menjawab : "Benar Wahai Amirul mukminin".    Umar berkata "bukan, bukan itu yang aku maksud, t...